Connect with us

Senior

Dokter Bhayangkara FC Ungkap Sisi Positif Puasa bagi Atlet

“Puasa untuk atlet sangatlah bagus. Banyak penelitian membuktikan bahwa atlet yang berpuasa dan berlatih sesuai aturan waktu dan dosis latihan sangat membantu meningkatkan performa,” ucap Alfan.

Share Medsos
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Dokter Tim Bhayangkara FC, Alvan memperhatikan pemain-pemain dalam menu bulan ramadhan. Foto : MAK

Bhayangkara FC – Harus menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan kerap dinilai sebagai hambatan bagi atlet, dalam hal ini pemain sepak bola. Namun, dokter tim Bhayangkara FC, dr. Alfan Nur Ashyar, justru merasa puasa sangat bagus untuk atlet.

Alfan mengatakan jika puasa biasa membuat seorang atlet menjadi lebih disiplin. Sebab, mereka bakal lebih tertip dari segi waktu. Baik itu waktu makan maupun waktu istirahat. Hal ini bisa membuat tubuh lebih sehat jika dilakukan dengan cara yang tepat.

“Puasa untuk atlet sangatlah bagus. Banyak penelitian membuktikan bahwa atlet yang berpuasa dan berlatih sesuai aturan waktu dan dosis latihan sangat membantu meningkatkan performa,” ucap Alfan.

Namun, Alfan juga mengingatkan ada beberapa hal yang perlu dijaga saat puasa. Salah satunya adalah asupan makanan yang masuk ke tubuh ketika buka puasa maupun sahur. Sangat tidak disarankan makan berlebih pada saat berbuka, begitu juga saat sahur.

Salah satu hal yang dianjurkan adalah banyak minum air mineral atau yang mengandung ion. Sebab, sebagian dari tubuh terdiri dari cairan. Tubuh akan terasa lemas ketika kadar cairan berkurang. Ini biasa terjadi saat puasa.

“Usahakan jangan minum kopi saat sahur, dikarenakan zat diuresis-nya yang malah membuat tubuh mengeluarkan cairan lebih banyak, dikhawatirkan dehidrasi sejak awal,” paparnya.

“Saat buka puasa, usahakan makan yangg ringan, cukup mengandung glukosa seperti makan dan minum manis, kurma, makanan ringan, dan agar pencernaan tidak berat saat mencerna awal sehingga nyaman dirasakan di daerah perut,” imbuh Alfan.

Sementara, pada siang hari, Alfan tidak menyarankan atlet untuk bermalas-malasan. Istirahat siang memang diperlukan, sebagai pengganti waktu istirahat malam yang dipakai untuk sahur. Tapi, bukan berarti siang hari hanya diisi dengan tidur saja.

“Ritme istirahat sebaiknya tidak terlalu berubah banyak. Seperti tidur tidak larut malam. Dan tidak menghabiskan banyak waktu tidur saat puasa. Berlakulah seperti normal saat tidak puasa. Karena jangan sampai penumpukan kalori yg tidak terpakai membuat tubuh menjadi obesitas/berat badan berlebih,” tutup Alfan. (SR)

Share Medsos
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

More in Senior