Connect with us

Senior

Merasa Dikerjai Wasit, Paul Tetap Puji Pemain

“Tapi sangat disayangkan jika terus terjadi hal demikian. Harus ada aksi bagaimana membenahi ini. Tidak ada guna jika hanya berbicara saja,” ucapnya.

Share Medsos
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LAMONGAN – Pelatih Bhayangkara FC Paul Munster merasa tidak pantas hanya membawa pulang satu angka dari Persela Lamongan. Mereka seharusnya dapat tiga angka. Ini karena gol Persela yang dicetak Birrul Walidain menit ke-69 berbau off side.

Namun wasit Ikhsan Prasetya Jati tetap mengesahkan gol tersebut. Sehingga gol Lee Yu Jun pada menit ke-23 kurang bermakna. “Susah memang bertanding melawan 12 atau bahkan 13 orang. Apalagi away. Kita jauh-jauh ke sini kita berusaha untuk menang namun yang kita lawan 12 orang. Gol jelas pemain sudah dalam posisi off side. Bisa dilihat dalam rekaman. Jadi kita sebenarnya bisa menang namun gagal karena gol offside mereka,” ungkap Pelatih Paul usai pertandingan.

Paul kecewa berat. Sebab, sebelum pertandingan dia yakin bisa membawa pulang tiga angka. Ini karena dia sudah dikantongi kelemahan dan kelebihan Persela setelah melihat rekaman mereka. Namun karena pemain Bhayangkara FC tidak hanya melawan tim tuan rumah, tiga angka di depan mata itu buyar.

“Hakim harus juga gak tau harus berbuat apa. Jika sepak bola kita mau lebih baik, Liga Indonesia harus menaikkan level perangkat pertandingan. Ini kan setiap minggu selalu terjadi seperti ini. Saya bisa bilang begini karena saya selalu melihat rekaman pertandingan calon lawan. Jadi sebenarnya saya tahu hal seperti ini akan terjadi. Tapi saya tetap bangga dengan semangat anak-anak. Dengan situasi seperti ini para pemain tetap fight sampai akhir pertandingan,” ungkap Paul.

Paul memuji semangat anak asuhnya karena mereka bertahan dengan baik dan menyerang sama baiknya. Hampir tidak ada kebocoran di lini pertahanan sepanjang pertandingan. Gol Persela itu terjadi karena off side. Wasit juga seenaknya menyetop pertandingan di saat pemain Bhayangkara FC kuasai bola.

“Mereka mendapatkan penalti dan free kick. Semua dapat. Sementara kita dapat bola saat ada momen bola keuntungan tapi justru distop. Susah jika bermain melawan 12 atau 13 orang. Mungkin wasit tidak masalah melakukan semua itu tapi saya kasihan dengan pemain. Mereka menderita karena ulah wasit,” ujarnya.

Diakui Paul, Indonesia sejatinya memiliki masa depan yang cerah di sepak bola. Potensinya besar.

“Tapi sangat disayangkan jika terus terjadi hal demikian. Harus ada aksi bagaimana membenahi ini. Tidak ada guna jika hanya berbicara saja,” ucapnya. (***)

Share Medsos
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

More in Senior